Sudut Pandang



Kemarin, lebih tepatnya sehabis ngehadirin sidang tugas akhirnya teman. Aku ketemu sama teman yang sebenarnya bukan pertama kali ketemu, tapi pertama kali melihat sisi lainnya, sisi positifnya. Ya, karena pembicaraan kita yang ngalor ngidul gak jelas. Tiba di sekitar 1 jam berlalu, kita mulai ngobrolin berbagai perpektif hidup.
Mulai dari cara ku memandang hidup, kemudian caranya memandang hidup. Sebenarnya hidup ini mudah, katanya. Hanya melakukan segala sesuatu sesuai kemampuan. Tidak ingin dianggap lebih unggul tapi sebenarnya palsu. Yang perlu dipelajari dari mereka yang unggul bukan menyaingi atau menyama ratakan diri agar dianggap unggul. Tapi bagaimana menjadi unggul dengan sumber daya yang dimiliki. Just need to be your self. Toh ya pada dasarnya kita juga uda jadi unggul sejak masih segumpal darah.
Pembicaraan kita mengarah ke prioritas hidup, siapa yang patut diprioritaskan alias menempati INT0 kalau di mikrokontroller. Keluarga katanya. Segala tentang keluarga penting dan harus diprioritaskan. Karena semakin tua usia kita, lingkup sosialisasi kita diibaratkan segitiga, semakin mengerucut keatas. Yang menempati ujung lancip segitiga adalah keluarga. Karena kelak, darah akan tetap lebih kental dari air. Saat terpuruk yang bisa menerima ya keluarga, saat sukses yang paling bahagia ya keluarga. So ga ada alasan untuk menomor duakan keluarga.
Pembicaraan paling asik waktu itu ya bahas tentang keluarga. Hasil pembicaraan itu adalah kesama rataan. Gak ada yang paling diatas, gak ada yang merasa paling dibawah.
Ok, saat salah satu anggota keluarga uda diposisi paling steady state a.k.a stabil dalam hidup. Tugasnya bukan hanya menambah dan mempertahankan ke stabilan, tapi bagaimana membantu mencapai kestabilan itu juga. Saling support dalam segala hal, dengan menjauhkan pikiran mengharap pamrih dsb. Bahagia gak sih? Saat bisa membantu sesama, melihat mereka tertawa bersama tanpa melihat kesenjangan sosial. Menikmati hal-hal kecil bersama, sehingga membuat hal kecil itu bermakna besar. Its complete …
Kesimpulannya sih, cukup jadi diri sendiri yang terus berupaya memperbaiki diri agar niat baik seperti lebih respect sama sesama dan tidak memandang segala sesuatu dari yang terlihat di cover dapat terwujud. Kata orang sih, orang lain akan memperlakukan kita sesuai dengan apa yang kita lakukan pada orang lain. Semoga istiqomah yaah…

Comments